Rabu, 09 November 2011

MENOLAK

Kisah Para Rasul 3:14 “Tetapi kamu telah menolak Yang Kudus dan Benar, serta menghendaki seorang pembunuh sebagai hadiahmu.”

Jika sebuah pilihan di perhadapkan pada kita, oleh orang tua, hadiah apa yang kamu pilih sebagai hadiah ulang tahunmu, dari kedua macam benda ini : Sebuah Alkitab atau uang lima ratus ribu .
Pikirkan baik-baik sebelum memilih. Kita semua tahu manfaat sejumlah uang tersebut untuk kepentingan kita di saat kita sedang bergembira merayakan ulang tahun. Kita juga tahu apa isi Alkitab. Jadi keduanya adalah benda yang kita sudah sangat paham dan kenal kegunaannya. Pilihan tergantung pada Anda sesuai dengan hati nurani.

Ketika Yesus diserahkan kepada Pilatus, dan rakyat di suruh memilih antara Barabas dan Yesus, siapa yang mereka pilih ? Keduanya mereka tahu benar siapa Yesus dan siapa Barabas. Tetapi mereka menolak Yesus. Menolak kebenaran dan kekudusan. Oleh karena untuk pemuas pribadi. Puas dengan melihat Yesus dianiaya. Padahal tahu apa akibatnya jika seorang Barabas dilepaskan. Kini kita pun setiap hari diperhadapkan pada dua pilihan yang harus kita ambil. Antara kebenaran yang bertentangan dengan perbuatan daging dan perbuatan daging yang juga bertenatangan dengan kebenaran yang dapat pemuas diri. Mana yang kita pilih... ? Memilih kebenaran berarti mengambil sebuah resiko besar yang harus kita bayar, tidak gratis, bayar dengan mengorbankan kepentingan pribadi, kenikmatan daging, bayar dengan cucuran airmata, pengorbanan waktu, dll YANG INTINYA ADALAH PENYANGKALAN DIRI. TETAPI KEBAHAGIAAN DIMASA DEPAN SUDAH MENANTI KITA. KITA AKAN TERSENYUM KARENA BAHAGIA.
Memilih kenikmatan pemuas kedagingan juga tidak gratis. Resiko akan kita tanggung dikemudian hari, sekarang kita tersenyum puas dan bahagi, namun AKAN MENANGIS DIAKHIR NANTI, OLEH KARENA KEBINASAAN.
Kepuasan sesaat yang kita pilih, seperti kita memilih seorang pembunuh/penjahat untuk tinggal bersama kita yang akan menyerang dan mematikan kita. 

PENOLAKAN TERHADAP KEBENARAN DAN KEKUDUSAN AKAN MEMBUAHKAN AIRMATA DAN PENYESALAN YANG TIDAK TERPUTUS.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar