Senin, 28 November 2011

Aku Cinta Kebudayaan Indonesia


Upacara Adat Saparan Bekakak di Ambarketawang

GermanPortugueseRussianItalianSpainFrench

Penymbelihan Bekakak
Bekakak yang disembelih di Gunung Gamping
Indonesia merupakan suatu negara yang memiliki beraneka ragam kebudayaan. Salah satunya berada di Desa Ambarketawang, Kecamatan Gamping, Kabupaten Sleman. Kebudayaan ini bernama Saparan Bekakak atau juga bisa disebut Bekakak Saparan, Saparan Gamping (Bekakak), dan Bekakak. Wujudnya berupa upacara slametan atau upacara adat. Berikut akan dibahas lebih lanjut tentang upacara adat ini.


1. Sejarah
1.1. Arti Nama
Nama upacara adat ini terdiri dari 2 kata, yakni “saparan” dan “bekakak”. Kata “saparan” berasal dari kata sapar yang identik dengan ucapan Arab : Syafar, yang berarti bulan Arab yang kedua. Jadi, upacara adat ini dilakukan pada Bulan Sapar.
Sementara maksud dari kata “bekakak” ialah qurban baik hewan atau manusia yang disembelih sebagai persembahan. Wujud bekakak yang dilakukan pada upacara adat ini hanya tiruan manusia saja. Berwujud boneka pengantin dengan posisi duduk bersila yang terbuat dari tepung ketan.
1.2. Asal Usul
Upacara Adat Saparan Bekakak sudah muncul sejak tahun 1755 pada masa Sri Sultan Hamengku Buwono I menetap di Pesanggrahan Ambarketawang. Sedangkan mengenai tentang asal usulnya terdapat beberapa versi yang berkembang di masyarakat. Versi tersebut antara lain :
1.2.1. Versi pertama ditulis ORS/Tim Potret (wartawan SCTV – Liputan 6) pada hari Minggu tanggal 27 April 2003 pukul 14:54.
Desa Ambarketawang adalah sebuah wilayah perbukitan gamping atau batu kapur. Seluruh warga desa menjalani kehidupan sebagai penggali batu kapur yang saat itu digunakan untuk membangun Keraton Yogyakarta. Namun, usaha penggalian batu kapur ini sring sekali menelan banyak korban jiwa. Di antaranya adalah sepasang suami istri yang juga abdi dalem keraton. Sang suami bernama Wirosuto.
Lantaran banyak korban yang berjatuhan, Sri Sultan Hamengku Buwono I yang memerintah saat itu mencari petunjuk untuk menyelesaikan permasalahan ini. Sultan pun bertapa di kawasan Gunung Gamping. Ternyata dalam pertapaannya, Sang Sultan mendapat wisik atau petunjuk dari para setan Bekasakan. Dalam wisik tersebut, penunggu tempat itu meminta sepasang pengantin dikorbankan setiap tahunnya demi kelancaran dan keselamatan kegiatan penggalian batu gamping. Namun Sultan berpikiran lain, wisik itu lantas ditanggapi melalui sebuah tipu muslihat. Yakni, dengan membuat sesaji berbentuk bekakak atau boneka pengantin untuk kemudian dikorbankan. Ternyata, tipuan itu berhasil. Dan, sejak saat itulah tradisi Saparan Bekakak menjadi sebuah rutinitas tahunan yang dilaksanakan di Desa Ambarketawang.
1.2.2. Versi kedua ditulis oleh oleh Fir (wartawan KRjogja.com) pada hari Jum’at, 29 Januari 2010 pukul 19:27.
Pada saat Sri Sultan Hamengku Buwana I memerintah & tinggal di Pesanggrahan Ambarketawang, Gunung Gamping banyak memakan korban akibat ulah makluk penunggu sepasang suami isteri Genderuwo dan Wewe. Mereka meminta agar disediakan darah sepasang pengantin baru jika penduduk di sekitar gunung Gamping dan Gunung Kliling ingin selamat. Akhirnya, demi keselamatan, penduduk terpaksa menyerahkan pasangan pengantin baru sebagai bekakak. Penyembelihan bekakak ini harus dilaksanakan setiap bulan Sapar.
Mendengar berita tersebut abdi dalem penongsong Ki Wirosuto yang tinggal di Pesanggrahan Ambarketawang mengikuti Sri Sultan Hamengku Buwana I akhirnya turun lapangan untuk menyelamatkan warga. Pertarungan pun terjadi. Ki Wirosuto yang senang melaksanakan laku tapa brata sebagaimana Ngarso Dalem Sri Sultan Hamengku Buwana I, akhirnya mampu mengalahkan Genderuwo dan Wewe. Tetapi, 2 makhluk tersebut tidak mau mengakui kekalahannya. Sebelum meninggalkan arena pertarungan, Gendruwo dan Wewe mengancam akan datang lagi untuk memangsa penduduk jika Ki Wirosuto tidak ada di situ.
Karena itu demi keselamatan warga, Ki Wirosuto tidak berani meninggalkan Gunung Gamping. Bahkan ketika Sri Sultan Hamengku Buwana I pindah dari Pesanggrahan Ambarketawang ke kraton yang sudah selesai pembangunannya di Alas Pabringan, dengan sangat terpaksa Ki Wirosuto tidak bisa ikut & memilih berada di tempat ini. Tinggal di suatu gua di Gunung Gamping bersama keluarganya hingga akhir hayat. Akhirnya Ki Wirosuto ditempatkan sebagai cikal bakal penduduk Gamping.
Melihat kesetiaan dan pengorbanan Ki Wirosuto, Ingkang Sinuwun Sri Sultan Hamengku Buwana I akhirnya memerintahkan untuk mengadakan upacara selamatan bagi Ki Wirosuto setiap bulan Sapar atas kesetiaannya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar